aaWnxJmZI5JY8FKCUvVg7FjFvZvkz69jLNXN7cby

5+ Hipotesis Teratas Tentang Proses Pembentukan Tata Surya + Penjelasan



Tata surya merupakan kumpulan dari benda benda langit yang terdiri dari bintang besar yakni matahari serta semua benda yang terikat karena gravitasi matahari.

Tata surya terdiri atas matahari, planet-planet, bulan, komet, meteor, dan anggota lain yang bergerak mengelilinginya.

Lalu, Pernahkah kalian berpikir tentang bagaimana bisa terbentuknya tata surya kita?
Banyak sekali hipotesis yang dirangkum oleh para ahli tentang awal mula terbenuknya tata surya. Namun, 6 hipotesis saja teratas yang diyakini. Urutannya yaitu hipotesis Kabut, Planetesimal, Pasang Surut Bintang, Protoplanet, Bintang Kembar.

Berikut ini penjelasan tentang beberapa hipotesis tersebut.

1. Hipotesis Kabut 

Hipotesis kabut dikemukakan oleh Immanuel Kant (1775) dan Laplace (1796). 
Hipotesis kabut juga hipotesis nebula. Tata Surya berasal dari kabut di ruang antar bintang yang berpilin di jagat raya. 

Kabut ini berasal dari gas, debu, dan es. Kabut berputar dan menyusut akibat gaya gravitasi yang dimilikinya. Kabut yang berpilin tersebut ada yang terlepas dan membentuk gelang di sekeliling bagian utama gumpalan kabut. Gumpalan kabut membeku dan membentuk planet-planet.

2. Hipotesis  Planetesimal 

Hipotesis Planetesimal dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin (1843-1928) dan diperkuat oleh Forest R. Moulton (1872-1952). Hipotesis ini menyatakan bahwa awalnya Tata Surya memiliki anggota hanya matahari.

Hingga suatu saat terdapat sebuah bintang besar melintas sangat dekat dengan Matahari. Gaya tarik-menarik antar keduanya menyebabkan sebagaian material padat berhamburan dan bergerak bebas. 

Material yang terlepas mendingin dan memadat menjadi benda yang berukuran lebih kecil. Benda tersebut saling bertabrakan dan membentuk berbagai objek di angkasa seperti planet, bulan, asteroid, dan komet.

3. Hipotesis Pasang Surut Bintang 

Hipotesis Pasang Surut Bintang hampir sama dengan teori Planetisimal. Hipotesisini dikemukakan oleh James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891).

Pada awalnya ada dua bintang yang berdekatan. Akibat haya tarik-menarik kedua bintang tersebut, sejumlah materi mengalami proses pasang surut. Pasang surut di kedua bintang terjadi seperti halnya pasang surut air laut di Bumi dan membentuk aliran materi seperti corong. Sebagaian massa dari salah satu Matahari terlepas membentuk planet dan objek angkasa lain. 

Hipotesis ini menjelaskan alasan ukuran planet di Tata Surya yang jika disusun secara horizontal berukuran besar di tengah dan kecil di bagian ujung.

4. Hipotesis Protoplanet 

Hipotesis Protoplanet dikenal pula dengan hipotesis kondensasi. Hipotesis ini dikemukakan oleh Carl von Weizsaeker (1940) dan Gerard P. Kuiper (1950). 

Hipotesis ini mengemukakan Tata Surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan dan gas mengalami pemampatan kemudian berpilin membentuk cakram. Partikel di bagian tengah cakram mengalami tekanan paling kuat dan membentuk Matahari. Bagian tepi yang berputar lebih cepat, terpecah, menjadi gumpalan kecil kemudian membentuk planet dan objek angkasa lain seperti asteroid dan komet.

5. Hipotesis Bintang Kembar 

Hipotesis Bintang Kembar dicetuskan oleh Pred Hoyle (1956). Semula terdapat dua bintang yang mengelilingi medan gravitasi. Bintang yang satu menabrak bintang yang lain.

Bintang yang bertahan menjadi Matahari, sedangkan bintang yang menjadi kepingan gas membentuk planet-planet dan benda angkasa. Benda angkasa seperti planet tertahan oleh gravitasi Matahari pada garis edarnya.

Bagaimana sudah paham tentang pembentukan Tata Surya yang dikemukakan oleh beberapa ahli melalui hipotesisnya? 

Sekian Semoga Bermanfaat!
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar