aaWnxJmZI5JY8FKCUvVg7FjFvZvkz69jLNXN7cby

Perang Aceh dan Tapanuli Terhadap Pemerintah Hindia Belanda

Perang atau perlawanan rakyat Aceh dan Tapanuli Terhadap Pemerintah Hindia Belanda

Kondisi Indonesia di bawah pemerintahan Hindia Belanda tidak lantas membaik. Bangsa Indonesia justru semakin menderita akibat kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial yang hanya mementingkan kepentingan Belanda.

Akibatnya, berbagai perlawanan kembali muncul di berbagai daerah terutama di daerah Aceh dan Tapanuli.

Berikut ini penjelasan mengenai peperangan di daerah aceh dan tapanuli pada pemerintahan Hindia Belanda.


Perang Aceh

Latar Belakang

Sejak awal abad XIX Belanda telah menunjukkan keinginannya untuk menguasai Aceh. Pada saat itu Aceh merupakan negeri penghasil lada cukup besar di Asia Tenggara.

Adapun berdasarkan Traktat London tahun 1824 yang ditandatangani antara Inggris dan Belanda, Aceh merupakan daerah bebas yang merdeka sehingga baik Inggris maupun Belanda dapat melakukan perdagangan dan bertugas menjaga kedaulatan Aceh. 

Posisi Aceh yang sangat menguntungkan dalam bidang ekonomi membuat Belanda ingin menguasai wilayah itu.

Proses Peperangan

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda mulai menyerang Aceh di bawah pimpinan Jendral J.H.R. Kohler. Serangan tersebut mengalami kegagalan, bahkan Jenderal Kohler terbunuh dalam serangan ini. 

Kegigihan rakyat Aceh membuat Belanda kewalahan dalam menghadapi perlawanan mereka. Belanda kemudian mengirim dr. Snouck Hurgronje untuk meneliti adat istiadat dan kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Atas saran dari dr. Snouck Hurgronje, Belanda menerapkan berbagai strategi untuk menghadapi perlawanan rakyat Aceh.

Akhir Peperangan

Akhirnya, pada tahun 1891 Tengku Cik Ditiro wafat dalam pertempuran. Selanjutnya, pada tahun 1899 Belanda1878 menembak mati Tengku Umar dalam penyergapan di markasnya.

Pada tahun 1906, Belanda berhasil menangkap Cut Nyak Dien. Meskipun pimpinan mereka ditangkap, rakyat Aceh tetap melakukan perlawanan kepada pemerintahan kolonial Belanda.


Perang Tapanuli

Latar Belakang

Sejak tahun 1873 Belanda telah menunjukkan keinginan untuk menguasai Tapanuli atau Sumatra Utara. 

Pada saat itu Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli Utara dengan motif memadamkan aktivitas pejuang-pejuang Padri dan para pimpinan dari Aceh yang banyak melarikan diri ke daerah Tapanuli.

Proses Peperangan

Pada tahun 1878, Belanda secara resmi melancarkan gerakan militer untuk menaklukkan Tapanuli. 

Untuk menaklukkan Tapanuli, pada tahun 1903-1904 Belanda mengirim pasukan di bawah pimpinan Jendral van Daalen. Mereka melakukan penyerangan dari daerah pedalaman Aceh kemudian dilanjutkan hingga daerah Tapanuli.

Serangan pasukan Belanda di Sumatra Utara dihadapi oleh rakyat Tapanuli di bawah pimpinan Sisingamangaraja XII.

Pada tahun 1905 kedudukan Sisingamangaraja XII semakin terjepit karena Belanda mendatangkan bantuan dari berbagai penjuru, 

Akhir Peperangan 

Pada tahun 1907, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Hans Christofel melakukan penyisiran terhadap kampung-kampung di daerah Tapanuli untuk menangkap Sisingamangaraja XII.

Dalam penyisiran tersebut, Belanda berhasil menangkap dan menawan ibu kandung, istri, dan dua anak Sisingamangaraja XII. 

Sisingamangaraja XII akhirnya gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada tanggal 17 Juni 1907.


Semoga Bermanfaat! 


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar