aaWnxJmZI5JY8FKCUvVg7FjFvZvkz69jLNXN7cby

3 Teori Teratas Tentang Pembentukan Jagat Raya

Teori teratas tentang pembentukan jagat raya

Jagat raya (universe) atau yang sering disebut alam semesta, ruang angkasa, atau antariksa. Jagat raya merupakan ruangan yang meluas ke segala arah dan tidak terhingga.

Jagat raya terdiri atas benda-benda langit, termasuk kabut gas (nebula) dan gugusan bintang, yang tidak terhitung jumlahnya.

Pada awal perkembangan ilmu astronomi terdapat beberapa pandangan terkait kedudukan Bumi  di jagat raya sebagai berikut.

  1. Antroposentris, pandangan yang mengatakan bahwa manusia merupakan pusat dari segalagalanya.
  2. Geosentris, menganggap Bumi sebagai pusat di alam semesta. Pendapat tersebut didukung oleh Theles (624-548 SM) dan Anaximander (610-546 SM).
  3. Heliosentris, pandangan yang menganggap Matahari sebagai pusat jagat raya. Tokoh terkenal dengan pandangan ini yaitu Nicholaus Copernicus (1473-1543).

Teori pembentukan jagat raya telah dikemukakan para ahli astronomi. Berikut ini merupakan teori teratas tentang pembentukan jagat raya.

Teori-Teori

1. Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory)

Teori yang dikemukakan oleh Alexandre Friedmann (1922) menjelaskan terbentuknya jagat raya oleh reaksi inti hidrogen dari peristiwa dentuman besar.

Menurut teori ini, jagat raya tidak konstan, tetapi mengembang dari perkembangan reaksi inti hidrogen.

Jagat raya mengalami proses mengembang terus menerus, tetapi semakin lama menunjukkan gerak melambat. Semakin melambatnya gerak mengindikasi bahwa terdapat pengaruh gravitasi jagat raya.

Pengaruh gravitasi ini menyebabkan jagat raya memampat atau mengalami penyusutan.


2. Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory)

Teori Dentuman Besar dikemukakan oleh Abbe George Lemaitre (1927). Teori ini menjelaskan jagat raya berasal dari ledakan suatu massa tunggal yang sangat padat dan panas.

Energi sangat besar yang dihasilkan oleh massa ini menimbulkan ledakan yang menyebabkan serpihan ledakan menjauh dari pusat ledakan.

Teori Dentuman Besar beranggapan bahwa materi hasil ledakan tidak terlempar ke ruangan di jagat raya. Namun, ruang mengembang dalam waktu tertentu.

Seperti yang dikemukakan oleh Edwin Hubble (1929) bahwa jagat raya tidak bersifat statis.


3. Teori Keadaan Tetap (Steady State Theory)

Teori Keadaan Tetap dikemukakan oleh Hermann Bond, Thomas Gold, dan Fred Hoyle pada tahun 1948. Teori ini menjelaskan bahwa jagat raya selalu tetap dan dalam keadaan sama.

Jagat raya tidak berawal dan tidak berakhir. Zat hidrogen senantiasa tercipta untuk menggantikan atom-atom hidrogen dari galaksi yang mengembang.


Semoga Bermanfaat!

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar