aaWnxJmZI5JY8FKCUvVg7FjFvZvkz69jLNXN7cby

Perlawanan Rakyat Banten dan Rakyat Makassar Terhadap VOC

Perlawanan Rakyat Banten dan Rakyat Makassar Terhadap Kongsi Dagang VOC

Belanda tiba pertama kali di wilayah Nusantara pada tahun 1596, ketika sebuah armada yang dipimpin Cornelis de Houtman mendarat di Banten.

Sejak membangun kekuasaannya di Indonesia pada abad ke-17, kongsi dagang VOC bertindak seperti sebuah negara yang mengancam kekuasaan raja-raja di Indonesia.

Keberadaan kongsi dagang Belanda atau VOC tersebut mendorongnya munculnya perlawanan rakyat Banten dan rakyat Makassar.


Perlawanan Rakyat Banten

Pada abad-17 (XVII) Masehi Banten berkembang pusat perdagangan di ujung barat Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683) Banten dapat mengungguli Makasar dan Aceh sebagai bandar perdangan terbesar di Indonesia.

Kondisi ini memicu konflik kepentingan dengan VOC di Batavia. Sejak awal VOC ingin mengusai Banten, tetapi selalu gagal.

VOC berupaya menghancurkan Kerajaan Banten melalui politik devide et impera. VOC menghasut Sultan Haji, putra Sultan Ageng Tirtayasa, dengan mengatakan bahwa Pangeran Arya Purbaya yang akan naik takhta menjadi Sultan Banten menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa.

Akibatnya, tumbul pertentangan antara Sultan Haji dan Sultan Ageng Tirtayasa. Dengan bantuan VOC, Sultan Haji berhasil menjadi penguasa Banten pada tahun 1681. 

Selanjutnya, pada tahun 1682 Sultan Ageng Tirtayasa menyerang Sultan Haji. Akan tetapi, pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia sampai akhir hayatnya.


Perlawanan Rakyat Makassar

Pada awal abad-17 (XVII) Masehi Makassar sebagai pusat Kerajaan Gowa-Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan di kawasan Indonesia timur. Letak geografis yang strategis, menjadikan Makassar sebagai pesaing berat VOC dalam pelayaran dan perdagangan di kawasan Indonesia timur.

VOC berusaha keras untuk memonopoli perdagangan di Makassar. Pada tahun 1634 VOC memblokade Pelabuhan Somba Opu, tetapi usaha ini gagal.

Pada tahun 1654 VOC kembali menyerang Makassar. Penyerangan VOC tersebut mengalami kegagalan karena rakyat Makassar memberikan perlawanan di bawah pimpinan Sultan Hassanudin.

Pada tahun 1666 VOC meminta bantuan Pangeran Bone bernama Aru Palaka untuk menguasai Makassar. Tujuan Aru Palaka membantu VOC dalam perang tersebut adalah membebaskan Kerajaan Bone dari kekuasaan Makassar.

Pasukan Aru Palaka berhasil menguasai benteng pertahanan Goa di Barombang. Selanjutnya, VOC berhasil memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bogaya yang isinya yaitu,

VOC berhak atas monopoli rempah-rempah di Makassar, wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo dikuasai oleh VOC, dan Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Semoga Bermanfaat!

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar